Gas-gas yg Terbentuk Pada Saat Pembuatan Biogas Adalah

Gas-gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses anaerobik. Proses anaerobik sendiri merupakan perubahan dari bahan organik menjadi biogas dengan bantuan dari mikroorganisme.

Perlu diketahui bahwa gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah sesuatu yang memang akan selalu muncul saat sedang membuat biogas, yaitu sumber energi alami yang didapatkan dari kotoran ternak atau limbah lainnya.

Baca juga: Apa itu Biogas, Proses Anaerobik, dan Manfaatnya

Gas gas yg Terbentuk Pada Saat Pembuatan Biogas Adalah

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa saat membuat biogas, akan melewati proses yang disebut anaerobik. Anaerobik adalah mikroorganisme yang akan mengubah limbah menjadi energi biogas. Adapun gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah sebagai berikut:

  1. Metana (CH₄)

Metana adalah gas alam yang merupakan komponen dominan dalam biogas. Sebagai salah satu hidrokarbon paling sederhana, metana memiliki kemampuan untuk menghasilkan energi ketika dibakar, menjadikannya sebagai sumber energi primer dalam biogas.

Gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah bagian dari proses pembuatan biogas. Gas utama yang paling dinantikan adalah gas metana ini. Dengan gas metana, energi dapat dihasilkan dan bisa menjadi energi alternatif.

Dibanti oleh proses fermentasi anaerobik, di mana mikroorganisme mampu mengubah bahan organik menjadi metana. Menjadikan proses anaerob ini layak dijadikan metode alternatif dalam menciptakan energi bersih.

Selain sebagai sumber energi, metana juga dikenal sebagai gas rumah kaca yang berpotensi memperparah pemanasan global jika dilepaskan ke atmosfer.

  1. Karbondioksida (CO₂)

Karbondioksida adalah gas yang tidak mudah terbakar dan merupakan produk sampingan dari proses fermentasi. Dalam proses produksi biogas, keberadaan CO₂ bukanlah hasil utama yang diinginkan, tetapi lebih merupakan produk sampingan dari aktivitas mikroorganisme saat mengurai materi organik.

Meskipun CO₂ sendiri tidak memberikan kontribusi dalam hal energi ketika biogas dibakar, namun, proporsi dan keberadaannya sangat menentukan kualitas biogas secara keseluruhan.

Sebagai contoh, kadar CO₂ yang tinggi dalam biogas dapat menurunkan nilai kalor gas, yang berarti mengurangi efisiensi ketika digunakan sebagai sumber energi. Oleh karena itu, dalam industri biogas, sering kali dilakukan upaya untuk meminimalisir kadar CO₂ agar mendapatkan biogas dengan kualitas yang optimal.

Dalam konteks lingkungan, CO₂ memiliki reputasi sebagai salah satu gas rumah kaca utama yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Oleh karena itu, meskipun CO₂ hadir dalam biogas, penggunaan biogas sebagai alternatif bahan bakar fosil justru dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

  1. Gas Hidrogen Sulfida (H₂S)

Hidrogen sulfida adalah gas dengan aroma khas seperti telur busuk. Walaupun konsentrasinya dalam biogas tidak tinggi, sifat korosifnya dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan. Oleh karena itu, dalam beberapa aplikasi, H₂S harus dihilangkan dari biogas sebelum penggunaannya.

Gas ini mudah dikenali berkat aroma khasnya yang serupa dengan telur busuk, suatu bau yang sulit untuk diabaikan. Kendati konsentrasi H₂S dalam biogas tidak selalu tinggi, sifatnya yang korosif menjadi perhatian khusus, terutama dalam konteks penggunaan dan penyimpanan biogas.

Peralatan yang terbuat dari logam, terutama yang memiliki kontak langsung dengan biogas, berisiko mengalami korosi cepat akibat paparan H₂S. Ini tidak hanya mempersingkat umur peralatan tetapi juga bisa menimbulkan potensi risiko keamanan.

Mengingat risiko tersebut, maka perlu dilakukan proses pembersihan atau “scrubbing” biogas, khususnya ketika biogas dimaksudkan untuk digunakan dalam aplikasi yang memerlukan standar kualitas gas yang tinggi.

  1. Gas Hidrogen (H₂)

Perlu diingat bahwa gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah sesuatu yang bisa diinginkan dan tidak diinginkan. Jika H2S sebelumnya tidak dikehendaki dan bisa menyebabkan korosi, begitu juga dengan H2 yang akan sangat berbahaya jika terlalu tinggi.

Hidrogen, dengan simbol kimia H₂, merupakan unsur yang ringan dan memiliki kapasitas pembakaran yang tinggi. Walaupun hadir dalam jumlah kecil di dalam biogas, keberadaannya tidak bisa diabaikan karena sifat energetiknya.

Konsentrasi hidrogen dalam biogas sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang difermentasikan dan kondisi fermentasinya. Misalnya, bahan baku dengan kandungan karbohidrat tinggi atau proses fermentasi yang berlangsung dalam kondisi tertentu dapat memfasilitasi produksi hidrogen yang lebih banyak.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa produksi hidrogen yang berlebihan dalam biogas bisa berisiko, karena gas ini memiliki potensi ledakan yang tinggi dan rentan terhadap percikan api. Oleh karena itu, dalam pembuatan biogas, penting untuk mengendalikan kandungan hidrogennya.

Kehadirannya memang memberikan manfaat dalam hal nilai energi, namun harus dikelola dengan benar untuk menghindari risiko. Pemahaman mendalam tentang sumber bahan baku dan kondisi operasional fermentasi akan membantu dalam mengoptimalkan produksi biogas sambil memastikan keselamatan.

  1. Gas Nitrogen (N₂) dan Oksigen (O₂)

Nitrogen (N₂) dan oksigen (O₂) mungkin terdapat dalam biogas akibat proses fermentasi atau kontaminasi dari lingkungan sekitar. Nitrogen adalah gas yang tidak reaktif dan tidak memiliki nilai pembakaran.

Kehadirannya dalam biogas akan mengencerkan gas dan mengurangi potensi kalor keseluruhan, mengakibatkan biogas menjadi kurang efisien saat digunakan sebagai sumber energi. Dalam skenario tertentu, nitrogen bisa berasal dari bahan baku yang digunakan atau infiltrasi udara ke dalam reaktor biogas.

Sementara itu, oksigen memiliki implikasi yang lebih serius pada proses biogas. Proses pembuatan biogas, khususnya fermentasi anaerobik, berlangsung dalam kondisi tanpa oksigen. Kehadiran oksigen dalam reaktor dapat mengganggu aktivitas mikroorganisme yang bekerja dalam kondisi anaerobik dan bisa menghambat produksi metana.

Adanya kedua gas ini menekankan pentingnya sistem penyegelan yang baik pada reaktor biogas dan prosedur operasional yang ketat untuk memastikan lingkungan anaerobik tetap terjaga. Dengan demikian, gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah gas nitrogen dan oksigen.

  1. Gas Lainnya

Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah termasuk amonia dan uap air meskipun dalam konsentrasi rendah. Kehadiran amonia terutama berasal dari dekomposisi protein, sementara uap air muncul karena proses fermentasi yang berlangsung di kondisi lembap.

Pada konsentrasi rendah, amonia dapat bertindak sebagai nutrien bagi mikroorganisme dalam digester, mendukung pertumbuhan dan aktivitas mereka. Namun, pada konsentrasi yang lebih tinggi, amonia dapat bersifat toksik bagi beberapa jenis mikroorganisme, khususnya archaea methanogen, yang menghasilkan metana, sehingga dapat menghambat produksi biogas.

Sementara itu, meskipun uap air tidak memberikan nilai energi, keberadaannya dalam biogas bisa menyebabkan beberapa masalah. Uap air bisa menyebabkan kondensasi di dalam pipa atau peralatan, yang kemudian dapat menyebabkan korosi atau pembentukan selokan di dalam sistem pipa.

Baca juga: Berikan Dua Contoh Keuntungan Menggunakan Biogas, Teknologi Sederhana yang Bisa Dilakukan Semua Orang!

Secara keseluruhan, gas gas yg terbentuk pada saat pembuatan biogas adalah deretan hasil dari proses anaerobik oleh mikroorganisme pembentuk biogas. Meliputi gas metana, karbondioksida, hidrogen sulfida, gas hidrogen, nitrogen, oksigen, amonia, dan uap air.

Meskipun begitu, tidak semua gas bermanfaat dan diinginkan dalam proses biogas. Contohnya jika terlalu banyak hidrogen sulfida bisa menyebabkan korosi, dan kadar hidrogen terlalu tinggi juga bisa menyebabkan ledakan saat proses pembuatan biogas.

Originally posted 2023-09-01 10:49:03.