Benarkah Ada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia?

Pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia tampak akan sulit untuk diwujudkan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan betul untuk dapat membangun pembangkit listrik yang akan menjaga keberlangsungan hidup orang banyak ini. Namun, Kementrerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyatakan jika Indonesia akan mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir pertama pada tahun 2040 nanti.

Proyek jangka panjang ini dipastikan akan terus berlangsung tak kenal henti meskipun pembangunannya akan memakan banyak biaya. Pada tahun 2017 saja biaya investasi untuk PLTN mencapai 81 miliar per Megawatt. Namun, pemerintah optimis karena pembangkit listrik tenaga nuklir ini juga akan menjadi salah satu jembatan yang bisa mengurangi emisi karbon di negara kita.

Kekhawatiran Akan Bahaya Nuklir

Dari pengecekan oleh sentir.id sejak tahun 2012 Indonesia bahkan sudah mulai mendirikan dua titik pancang penanda jika ada pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia di daerah tertentu. Satu PLTN ada di Badan Tenaga Nuklir Nasional di Bandung dengan daya sebesar 6 Megawatt dan PLTN lain ada di Serpong dengan daya 2 Megawatt. Kedua PLTN ini masih menjadi ‘taman bermain’ bagi para peneliti saja. Pada saat itu belum ada hasil listrik yang dialirkan ke PLN.

Sebagian besar masyarakat kita masih terlalu khawatir dengan keberadaan area kerja PLTN. Mereka masih menganggap jika nuklir berbahaya untuk lingkungan dan hajat hidup orang banyak seperti menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh dan komplikasi jika terpapar terus menerus.

Penolakan demi penolakan pun sering terjadi di beberapa titik seperti di Kudus, Jawa Tengah. Sementara itu, kondisi alam Indonesia yang rawan gempa dan masalah sosial politik juga perlu dipertimbangkan untuk pembangunan dan pemanfaatan PLTN ini. Meskipun begitu, energi nuklir sama seperti energi terbarukan lainnya yang memiliki sejumlah resiko di dalamnya.

Lambat laun kita akan menggunakan produksi PLTN ini demi memasok listrik yang bersih, murah dan mudah diperoleh. Orang-orang yang bekerja di area PLTN juga sudah terlatih dan terbagi-bagi dalam beberapa divisi sehingga penerapannya bisa terus terpantau dengan baik.

Baca juga: Contoh Energi Terbarukan dan Tidak Terbarukan Yang Bisa Menyelamatkan Dan Membahayakan Keberlangsungan Hidup?

Net Zero Carbon di Indonesia

Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia paada tahun 2040 merupakan titik awal yang tepat menuju Indonesia dengan net zero carbon di 2060. Sebagai energi terbarukan, nuklir bukan berasal dari alam. Nuklir adalah buah dari pemikiran manusia dan teknologi canggih dimana pemanfaatannya akan lebih lama dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil. Dengan masa pakai energi selama lebih dari 80 tahun, nuklir juga sangat rendah emisi karbon dan sangat dapat diandalkan.

Nol emisi karbon atau net zero carbon di Indonesia merupakan langkah konkrit dalam membatasi pemanasan global. Peningkatan suhu rata-rata bumi kebanyakan terjadi akibat aktivitas manusia yang begitu tinggi sehingga panas bumi bisa melebihi ambang batas 1,50C.

Untuk itu, diperlukan landasan yang tepat untuk mencapai Indonesia nol emisi karbon sesuai dengan jurnal nature climate change yang keluar pada 20 Desember 2021. NZE atau net zero emission akan terus diusahakan. Ini adalah kondisi dimana semua gas rumah kaca akibat dari aktivitas manusia yang padat akan dihilangkan melalui penyerapan ekosistem hutan, laut, dan bumi.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia juga sangat membantu proses penyerapan gas rumah kaca ini untuk mencapai kesepakatan bersama dalam Perjanjian Paris dimana emisi karbon sebesar 45 persen akan dihilangkan menjelang 2030. Indonesia turut menandatangani perjanjian tentang perubahan iklim ini.

pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia

Impor Uranium Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia

Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia memang tidak selalu mulus. Banyak kendala yang dihadapi oleh para peneliti dan pekerja. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku. Bahan utama PLTN uranium dan thorium di Indonesia hanya sekitar 90 sampai 1400 ton saja.

Ketika PLTN sudah berdiri kokoh di Indonesia beberapa tahun ke depan, maka Indonesia membutuhkan impor bahan baku. Ini bisa dilakukan sesuai kebutuhan dan saat ini SDM PLTN di Indonesia sudah sangat siap untuk memulai pengolahan listrik tenaga nuklir, pengaturan limbah nuklir dan melakukan berbagai kajian reaktor nuklir.

Masa Depan Cerah Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia

Pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia bukan saja menarik minat pengembang dalam negeri melainkan juga minat para investor luar. Banyak vendor yang berniat berinvestasi untuk pembangunan PLTN di Indonesia yang kabarnya akan mulai diwujudkan secara komersil di 2032 mendatang.

Wilayah Kalimantan Barat dan Bangka Belitung yang saat ini sedang menjadi target penelitian oleh BRIN kabarnya akan menjadi lokasi yang tepat untuk pembangunan reaktor nuklir tersebut.

Baca juga: Menilik Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia, Seberapa Besar?

Ketakutan akan bocornya limbah nuklir hingga masuk ke pemukiman warga dan masalah sosial politik akan selalu mewarnai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia. Sebagai masyarakat yang mendambakan energi yang ramah lingkungan dan aman, kita berharap pemanfaatan energi nuklir ini bisa dilakukan dengan seoptimal mungkin.

Originally posted 2023-02-26 02:42:57.