Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Potensi energi terbarukan di Indonesia untuk tenaga listrik mencapai 443 GW. Energi terbarukan yang dimaksut yaitu panas bumi, air dan mikro-mini hidro, suryam angin dan gelombang laut. Potensi tenaga surya di Indonesia memiliki porsi terbesar lebih dari 207 MW, disusul denagn energi angin dan air. Meski memiliki potensi yang tinggi, pemanfaatanya masih minim. Pengembangan energi baru terbarukan Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara G20 yang tengah melakukan transisi  menuju ekonomi yang rendah karbon dalam upaya mencapai target Perjanjian Paris. Pemanfaatan energi terbarukan dan pengurangan ketergantunagan pada energi fosil merupaakan tantangan bagi Indonesia. 

Menurut data Badan Pusat statistic saat ini akses listrik di Indonesia sudah mencapai 96,95 %.  Meski demikian masih ada provinsi yang memiliki akses listrik dibawah 70%, misalnya Nusa Tenggara Timur dan Papua. Hal tersebut menunjukan pemenuhan energi yang belum merata di Indonesia. Tantangan energi bukan hanya listrik tetapi juga pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti energi untuk memasak. Banyak penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses pada bahan bakar dan masih menggunakan tungku tradisonal. Padahal pembakaran tungku menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan dan tidak tersedia sepanjang waktu. 

Baca Juga: Energi Terbarukan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang kaya dengan sumber daya alam.  Salah satu kekayaan tersebut yaitu sumber energi terbarukan. Sumber energi terbarukan ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Pada tahun 2025, Indonesia memiliki target beuran energi terbarukan minimal 23%. Sedangkan pada tahun 2020 baru terealisasi 11%. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak dan diperlukan regulasi yang tepat.Mengembangkan sumber energi terbarukan yang efisien dan bersih dapat mengurangi ketergantungan pada energi impor, menstimulasi efisiensi ekonomi, dan daya saing. Selain itu, ada keuntungan pembangunan seperti udara yang lebih bersih diperkotaan dan rumah, mengurangi kemacetan, pengelolaan sampah yang lebih baik, serta proses produksi yang lebih kompetitif. 

Undang- undang Nomor 30 tahun 2007 tentang energi telah mengatur penyediaan energi di Indonesia khususnya energi terbarukan.Berdasarkan UU tersebut penyediaan energi baru dan energi terbarukan wajib ditingkatkan oleh pemerintah dan  pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannnya. Selain UU tersebut terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Dalam PP tersebut, terget EBT secara spesifik diatur dengaan tenggat waktu 2025 dan 2050. Porsi EBT dalam bauran energi nasional harus mencapai setidaknya 23% di tahun 2025 dan paling sedikit 31% tahun 2050 sepanjang keekonomiannya tercapai. Berikut merupakan energi terbarukan yang ada di Indonesia : 

Energi Geothermal

Sekitar 40% cadangan energi geothermal dunia terletak di Indonesia dan diperkirakan memiliki cadangan-cadangan panas bumi terbesar di dunia. Distribusi Geothermal di Indonesia sekitar 80% berasosiasi denan sistem vulkanik akktif sperti Sumatera terdapat 81 lokasi, Jawa 71 lokasi, Bali dan Nusa Tenggara 27 lokasi, Maluku 15 lokasi dan Sulawesi 7 lokasi. Sedangkan di lingkungan non vulkanik aktif yaitu Sulawes (43 lokasi), Bangka Belitung (3 lokasi) , Kalimantan (3 lokasi), dan Papua (2 lokasi). Dari 253 lokasi panas bumi hanya ada 31% yang telah disurvei secara rinci dan didapatkan potensi cadangan. 

Panas bumi merupan sumber daya energi baru terbarukan yang ramah lingkungan. Dalam proses eksploitasinya juga tidak membutuhkan lahan permukaan yang terlalu besar sehingga dapat memunuhi kebutuhan energi di Indonesia. Pemanfaatan energi geothermal dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pemanfaatan tidak langsung yaitu sebagai energi listri. Pemanfaatan secara langsung dalam wujud pemanfaatan energi panas  untuk berbagai keperluan seperti pemanasan kolam renang, pengerinagn hasil pertanian, perkebunan dan lain lain. Biaya yang digunakan untuk pemanfaatan energi geothermal tentunya tidak sedikit.  PLN pada tahun 2009 menghitung biaya modal untuk pembangkit panas bumi berkisar antara 2.8-3.0 juta US$/M.

Energi Air

Keterseediaan air di Indonesia mencapai 694 milyar meter kubik pertahun. Jumlah tersebut merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan. Namun, baru sekitar 23 persen yang sudah dimanfaatkan . Sebagian air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan masuk ke dalam cekungan-cekungan air tanaj yang potensinya mencapai lebih dari 308 milyar meter kubik dengan potensi terbesar berada di Sumatera yaitu sebesar 110 milyar meter kubik.

Energi air dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi energi listrik dan pembangkit listrik Tenaga air tanpa meninggalkan emisi gas rumah kaca seperti yang dihasilkan oleh sumber pembangkit listrik yang menggunakan energi fosil. Pembangkit energi listrik tenaga air (PLTA) dihasilkan dari energi potensial air yang diubah menjadi energi mekanik oleh turbin dan energi tersebut yang diubah menjadi energi listrik oleh generator dengan memanfaatkan ketinggian dan kecepatan air. Pembangkit listrik dibagi menjadi 4 berdasarkan daya listrik yang dihasilkan yaitu :

  1. Pico hydro menghasilkan 5 kW

  2. Micro hydro menghasilkan 5-100 kW

  3. Mini hydro menghasilkan daya di atas 100kW, namun tetap di bawaah 1 MW

  4. Bendungan/DAM/ large hydro dengan daya yang dihasilkan lebih dari 100 MW.

Indonesia memanfaatkan air sebagai energi listrik yaitu PLTA Cirata, Purwakarta, Saguling, Jatiluhur, dan Lamajan.

AVvXsEhoJeNOSk7ezJHmjL5 e89yWDl0 5di8Ko44szL3DThQgKyxrpSyeFdezA7j451AB0gtJg5dgVviXSQmzFR cMJBjD8qajUeBuwQZDRH06twzKi9tT1wON5Rv66i33lXT kWgKdSx xkKlrNdSpm1lWkO9zXwxydJ7MusbWmSbGE e79V11gVJ16z2=w569 h320

Gambar 2. Skema PLTA

(https://www.webstudi.site/2019/09/PLTA.html)

Tenaga air merupakan sumber energi bersih yang terbarukan dan tidak mencemari bumi dengan emisi CO2 yang berbahaya seperti bahan bakar fosil. Selain itu sumber energi air yang jauh lebih stabil dibandingkan angun dan tenaga surya karena setelah bendungan selesai dibangun listrik dapat diprosuksi dengan stabil. Setelah bendungan dibangun, mereka tidak hanya efisien tetapi juga dirancang untuk bertahan dalam waktu yang sangat lama dengan biaya yang relative rendah. Sumber energi air juga memiliki kekurangan yaitu dengan adanya bendungan atau dam maka dapat mengganggu aliran alami sungai yang berdampak negative pada ekosistem sungai. Jika bendungan yang dibuat benar-benar besar maka dapat menyebabkan erosi, tanah longsor, dan kerusakan geologi yang serius. Bendungan yang digunakan untuk pembangkit listrik tenanga air dapat mengubah tingkat aliran, pola aliran, suhu air yang berdampak pada ekosistem yang ada di air. Kekurangan yang lain yaitu dari segi ekonomi yang berupa biaya awal yang mahal untuk membangun bendungan dan pembangunan tersebut harus beroperasi setidaknya selama beberapa decade sebelum mulai membawa keuntungan.

Energi Surya

Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang cukup besar. Berdasarkan data penyinaran yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia di bagi menjadi :

  1. Untuk Kawasan Barat Indonesia (KBI) sekitar 4,5 kWh/m2/ hari  dengan variasi bulanan sekitar 10%

  2. Untuk Kawasan Timur Indonesia (KTI) sekitar 5,1 kWh/ m2/ hari  dengan variasi bulanan 9 %

Dengan data di atas potensi rata-rata radiasi surya Indonesia sekitar 4,8 kWh/ m2/ hari   dengan variansi bulanan sekitar 9 %.

Pemanfaatan energi surya dapat dilakukan dengan 2 teknologi yaitu energi surya termal dan energi surya fotovoltaik. Energi surya termal digunakan untuk memasak, mengeringkan hasil pertanian, dan memanaskan air. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari pendingin dengan kapasitas total kurang lebih 6 Mega Watt. Pemanfaatan energi surya sudah ada ditahap semi komersial dan komponen utamanya yaitu sel fotovoltaik yang dapat mengubag penyinaran matahari menjadi listrik, Balance of system (BOS), unit penyimpanan energi(baterai) dan alat penunjang lainnya.

 

AVvXsEjZ2pOtzw2u6duSc5d k J66mECmoPlrRpy SDgSlJOTEPh59Ua1 GWvA5rSWlrLTL0zVVBA9kY3LjLAvTcmZJm223 Yym8pp9vjC0CBDN ozQYo7yCsnXv kb2kfIlpOAvWFDQB coeijBik6dT1tVWY3rXUW4Hg5 gEo37UDOu0i68 5BymEH04n=w500 h281


Gambar 3. Sel fotovoltaik

(https://www.mmindustri.co.id/olah-potensi-112-000-gwp-dengan-fotovoltaik/)

Energi Angin

Potensi angin di Indonesi memiliki rata-rata kecepatan sekitar 3-4 m/s dan total daya yang dapat dibangkitkan sebesar 9.290 MW. Angka tersebut merupakan salah satu potensi yang cukup besar dan Indonesia hanya memanfaatkan 1% dari potensi tersebut. Di Indonesia, energi angin terbesar terdapat di selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku. 

Pada pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), energi angin biasanya dimanfaatkan untuk memutar bagian kincir angin, dimana energi akan diubah menjadi mekanik dan diubah kembali menjadi energi listrik. Energi listrik yang dihasilkan dapat ditransmisikan dan didistribusikan untuk kebutuhan listrik. 

AVvXsEhDpp nJanKiu6Ad4UAbm3v3 ORhelCcGpsHhRDcuBgsCqbtdQK Lpv99ZABYuVQVxYP1dh6lpl4Jv cY9PuawzmD93CXYmj0boh6TanyTXbe89OeKhCXPzatRemUYGVVxvO9e4o27wV1tutmbi5GJST4YRtSswgObqibZm2KodU9urMMTBOfh4GKZ4=w603 h339

Gambar 4. Prinsip Pembangkit Listrik tenaga Bayu PLTB

(https://bills.alterra.id/ketahuilah-begini-cara-kerja-pembangkit-listrik-tenaga-angin/)

Salah satu contoh biaya pemanfaatan energi listrik tenaga angina ada di Pulau Panggang. Untuk memenuhi kebutuhan listrik pulau panggang sebesar 519kW diperlukan 4 buah turbin berdaya 225kW, hal ini disebabkan karena turbin berdaya 225kW ketika diBiaya investasi yang diperlukan untuk membuat pembangkit listrik tenaga angin di pulau panggang adalah sebesar 15,48 milyar rupiah, sedangkan penghasilan pembangkit listrik tenaga angin jika beroperasi 12 jam dalam sehari adalah sebesar 1,05 milyar rupiah per tahun, sehingga biaya investasi ini  akan kembali ketika pembangkit listrik tenaga angin telah beroperasi selama 15 tahun. Jika pembangkit listrik tenaga angin beroperasi 24 jam dalam sehari adalah sebesar 2,11 milyar rupiah per tahun, sehingga biaya investasi ini akan Kembali ketika pembangkit listrik tenaga angin telah beroperasi selama 7,5 tahun

Energi Biomassa

Energi biomassa adalah bahan organic yang dihasilkan melalui fotosintesis, baik berupa produk maupun buangan. Potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber energi jumlahnya sangat melimpah yaitu sebesar 146.7 juta ton per tahun. Sementara potensi biomassa ayang berasal dari sampah untuk tahun 2020 diperkirakan sebanyak 53.7 juta ton. Limbah yang berasal dari hewan dan tumbuhan semuanya potensial untuk dimanfaatkan dan dikembangkan. Tanaman pangan dan perkebunan menghasilkan limbah yang cukup besar, yang dapat digunakn untuk bahan bakar nabati. 

Secara umum teknologi konversi biomassa menjadi bahan bakar dapat dibedakan menjadi 3 :

  1. Pembakaran langsung merupakan teknologi yang paling sederhana karena pada umumnya biomassa dapat dibakar. 

  2. Konversi termokimiawi merupakan teknologi yang memerlukan perlakuan termal untuk memicu terjadinya reaksi kimia dalam menghasilkan bahan bakar.

  3. Konversi biokimiawi merupakan teknologi konversi yang menggunakan bantuan mikroba dalam menghasilkan bahan bakar. 

Pemanfaatan energi biomaasa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

  1. Biobriket adalah salah satu cara yang digunakna mengkonversi sumber energi biomassa ke biomassa lain dengan cara di mampatkan sehingga bentuknya lebih teratur.

  2. Gasifikasi biomasa merupakan proses konversi bahan selulosa dalam suatu reactor gasifikasi menjadi bahn bakar.

  3. Pirolisis, dibagi menjadi pirolisis primer dan pirolisis sekunder. Pirolisis primer adalah pirolisis yang terjadi pada bahan baku, sedangkan pirolisis sekunder terjadi atas partikel dan gas hasil pirolisis primer.

  4. Liquification merupaka proses perubahan wujud dari gas ke cairan dengan proses kondensasi , biasanya melalui pendinginan, atau perubahan dari padat ke cairan dengan peleburan atau pemanasam dan pencampuran cairan lain untuk memutuskan ikatan.

  5. Biokimia dapat berupa hidrolisi, fermentasi, dan anaerobic disgetion.

  6. Densitifikasi digunakan untuk meningkatkan manfaat biomassa dengan mudah dengan membentuk briket atau pellet.

  7. Karbonisasi adalah proses untuk mengkonversi bahan organic menjadi arang.

Pemanfaatan biaya energi dari pemanfaatan biomassa tersebut sangat besar, yaitu Rp13,23 triliun pada Tahun 2020 dan Rp14,97 triliun pada 2025. Pemanfaatan biomassa dari minyak kelapa sawit dan kompos sebagai pelengkap penggunaan energi industri pulp dan kertas nasional bisa menghemat biaya industri sampai Rp13,23 trilliun atau sekitar 10-20 persen.

Itulah gambaran umum Potensi Energi Terbarukan di Indonesia, data ini bisa menjadi dasar untuk pengembangan energi terbarukan kedepannya.


Originally posted 2021-08-19 15:45:00.